Siaran Pers

Prabowo Tidak Lagi Dipilih Jadi Presiden Bila Pemilihan Umum Sekarang
siaran pers

Prabowo Tidak Lagi Dipilih Jadi Presiden Bila Pemilihan Umum Sekarang

Diposting pada 23 September 2026

Bila pemilihan presiden dilakukan sekarang dan Prabowo maju sebagai calon, kemungkinan dia tidak akan terpilih kembali. Demikian hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Elektabilitas Calon-calon Presiden” yang dipresentasikan Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, melalui kanal Youtube SMRC TV pada Rabu, 29 Juli 2026. Video presentasi survei bisa disimak di sini: https://youtu.be/JVVxibvY_wA Hasil survei terakhir SMRC yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 menunjukkan bahwa dalam simulasi semi terbuka, Dedi Mulyadi mendapatkan dukungan sebesar 35 persen dan berjarak cukup jauh dengan Prabowo Subianto di urutan kedua dengan perolehan suara 14,5 persen. Nama selanjutnya adalah Anies Baswedam 8,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, Mahfud MD 4 persen, dan nama-nama lain di bawah 2 persen. Pada survei ini, masih ada 12,8 persen pemilih yang tidak mau menjawab atau belum menentukan pilihan. Deni menjelaskan bahwa dalam 9 bulan terakhir, elektabilitas Prabowo di simulasi semi terbuka menurun dari 34.9 persen di survei November 2026 menjadi 14.5 persen di survei Juli 2026. Sementara, di periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi naik dari 19.7 persen menjadi 35 persen. Dalam head to head atau simulasi dua nama antara Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto, dukungan pada Dedi Mulyadi mencapai 59 persen, sementara dukungan pada Prabowo 28,3 persen. Masih ada 12,7 persen pemilih yang belum menjawab. Dalam 4 bulan terakhir, elektabilitas Prabowo di simulasi 2 nama menurun dari 50.5 persen pada survei Februari-Maret 2026 menjadi 28.3 persen di survei Juli 2026. Sementara di periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi naik, dari 42.6 persen menjadi 59 persen. Deni menjelaskan populasi survei ini adalah seluruh warga Indonesia yang punya hak pilih. Sebanyak 749 dari mereka dipilih secara randmm, dan yang punya telepon diwawancarai lewat telpon (83,8 persen), sementara yang tidak punya telepon diwawancarai dengan tatap muka (16,2 persen). Proporsi ini sesuai dengan populasi pengguna cellphone dan yang tak menggunakannya. Margin of error survei ini +/- 3.7 persen. Untuk melihat perbedaan signifikan, maka perbedaan itu harus minimal 2x margin of error (7,4 persen). Survei terakhir dilakukan pada 5-19 Juli 2026.

Read more...
Peluang Gerindra Menjadi Partai Nomor Satu Melemah
siaran-pers

Peluang Gerindra Menjadi Partai Nomor Satu Melemah

Diposting pada 21 September 2026

Peluang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sebagai partai nomor satu melemah jika pemilihan umum (Pemilu) diadakan sekarang. Padahal Gerindra adalah partai presiden yang bisa dan akan maju kembali sebagai calon presiden. Biasanya presiden yang akan maju kembali sebagai calon, partainya menjadi nomor 1 seperti Partai Demokrat 2009 dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan 2019. Demikian temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting bertajuk “Elektabilitas Partai” yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026. Hasil survei ini disampaikan Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, melalui kanal Youtube SMRC TV pada Kamis, 30 Juli 2026. Video presentasi survei bisa disimak di sini: https://youtu.be/KS3Duovngsk Dalam format semi terbuka di mana warga ditanya jika Pemilu anggota DPR diadakan sekarang ini, partai atau calon dari partai mana yang akan Ibu atau Bapak pilih dari daftar partai berikut ini? Gerindra mendapatkan suara 16,9 persen, disusul Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan 11,7 persen, Partai Golongan Karya (Golkar) 9,6 persen, Partai Demokrat 8,1 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 5,4 persen, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) 4,4 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4,4 persen, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 4,1 persen, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) 2,2 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 1,9 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,3 persen, Partai Garuda 1 persen, dan partai-partai lain di bawah 1 persen. Dalam survei ini, masih ada 25,9 persen yang belum tahu atau tidak menjawab. Lebih jauh Deni menunjukkan, bahwa dibanding Pemilu 2024, suara Gerindra naik dari 13.2 persen menjadi 23.3 persen di survei November 2005, kemudian naik lagi hingga mencapai 29.3 persen di survei Feb-Mar 2026, namun kemudian turun cukup tajam menjadi 16.9 persen di survei terakhir pada Juli 2026. Sementara itu, suara PDIP cenderung melemah dari 16.7 persen di Pemilu 2024 menjadi 11.7 persen di survei terakhir Juli 2026. Golkar juga melemah dari 15.3 persen menjadi 9.6 persen. Sementara Demokrat cenderung stabil dari 7.4 persen menjadi 8.1 persen. “Elektabilitas PKB, PKS, NasDem, dan PAN berfluktuasi sejak Pemilu 2024, namun secara umum cenderung menurun,” ungkap Deni. Deni menjelaskan bahwa melemahnya elektabilitas Gerindra dalam 9 bulan terakhir konsisten parallel dengan turunnya evaluasi positif publik atas kinerja Presiden Prabowo, serta merosotnya sentimen positif atas kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, dan program-program prioritas presiden: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Deni menjelaskan populasi survei ini adalah seluruh warga Indonesia yang punya hak pilih. Sebanyak 749 dari mereka dipilih secara randmm, dan yang punya telepon diwawancarai lewat telpon (83,8 persen), sementara yang tidak punya telepon diwawancarai dengan tatap muka (16,2 persen). Proporsi ini sesuai dengan populasi pengguna cellphone dan yang tak menggunakannya. Margin of error survei ini +/- 3.7 persen. Untuk melihat perbedaan signifikan, maka perbedaan itu harus minimal 2x margin of error (7,4 persen). Survei terakhir dilakukan pada 5-19 Juli 2026.

Read more...
Hubungin kami